Minggu, 13 September 2015

PART TIME : EPISODE I

Aku Sudah Menunggumu

Oleh : Sid Corey




4 Agustus 2007

Orang-orang menganggapku sebagai anak yang paling aneh di kelas, hampir tak pernah ada yang mau berteman denganku. Kecuali mereka yang merasa kasihan. Tapi aku tak butuh itu...


Terlahir sebagai yatim piatu bukanlah sebuah masalah, hanya saja aku harus selalu bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah. Terkadang aku melihat mereka bersama orang tuanya sedang asyik makan di restoran mewah, dan merengek-rengek meminta mainan pada orang tua mereka.. Cihh.. Mereka orang-orang yang menjijikan, di kelas sebagai jagoan dan diluar seperti anak anjing yang memelas pada tuannya.

 Namaku Windy Rukmana, umur 15 tahun dan masih duduk di bangku SMA. Aku bingung kenapa aku memiliki nama perempuan, padahal aku ini adalah seorang anak laki-laki.. Tapi aku tak pernah mempedulikan itu semua. Hanya menambah beban pikiranku saja..



Seusai sekolah aku pergi ke sebuah Mall untuk bekerja, aku bekerja sebagai cleaning service.. Ya, tukang bersih-bersih. Kadang aku ditempatkan di toilet, di basement, bahkan didalam gudang yang gelap dan sepi. Bukan tanpa alasan aku bekerja disini. Aku harus bekerja atau aku akan lapar. Terkadang bila Mall sudah sepi (sekitar jam 10) aku meminta makanan sisa (yang belum dibuang) di food court.. Mereka dengan senang hati memberikannya padaku, mereka sangat baik.. Bahkan ada pula yang ingin mengangkatku sebagai anaknya. Maaf, aku harus merawat kakek yang sedang sakit. 

Malam pun tiba.. Mall sudah tutup tapi aku masih sibuk menggerogoti paha ayam yang diberikan oleh Ibu Dewi.. 

"Hei, nak cepat habiskan.. Aku akan mengunci pintu ini" Seorang satpam yang sudah kukenal sejak dulu, namanya Pak Wawan.. 

"Sebentar lagi pak, nanggung.. Hehehe" 

"Ya sudah aku ke toilet sebentar, ketika aku kembali kau harus sudah selesai" 
Makanan pun cepat kuhabiskan lalu buru-buru cuci tangan.. "Ahh, sial airnya mati" Apa boleh buat aku ke toilet tempat Pak Wawan berada untuk mencuci tangan,, tapi aku tak menemukan beliau disana.. "Lho.. Mana Pak Wawan??" tanyaku dalam hati.. "Ah mungkin dia patroli" Setelah aku mencuci tangan, Aku mendengar suara wanita menangis.. Suaranya seperti seseorang yang mengalami kesedihan yang amat dalam, suara sesaknya, suara nafasnya yang tak beraturan, aku memperhatikan itu semua.. 

"Halooo.. Nyonya? Mall sudah tutup kenapa anda masih disini? Ini akan segera dikunci lho". Dia tak menjawab.. Namun kali ini tangisannya semakin menjadi dengan diiringi suara jeritan kecil, dan makin lama terdengar semakin keras.. Akhirnya kuberanikan diri untuk mencari dimana suara itu berasal.. Setelah ditelusuri akhirnya aku berhenti pada satu kamar kecil (WC) paling pojok.. Ya, dari sini suara itu berasal.. Namun setelah aku sampai didepan pintu, tiba-tiba keadaan menjadi hening.. 

"Kemana suara tangis tadi?" tanyaku dalam hati. Kutempelkan telingaku ke pintu itu, terdengar suara orang bernafas, nafas terengah-engah seperti orang yang kecapean... Bulu kudukku berdiri semua, sekujur tubuhku merinding hebat ketika suara nafas itu berubah menjadi suara tawa kecil. Lalu akupun mengetuk pintu itu.. 

"Hei, nyonya.. Kau tak apa-apa?" Lagi-lagi dia tak menjawab.. 

"Nyonya, pintunya akan kubuka.. Jadi bicaralah"

Aku menelan ludah, lalu ketakutan sudah menyelimuti seluruh tubuhku. Dengan tubuh yang gemetar aku mencoba untuk mengintipnya dari lubang kunci untuk memastikan keadaan.. 

Mataku terbelalak, jantungku mau copot ketika kulihat ada mata juga yang mengintip dari balik pintu itu, matanya melotot dan hanya berjarak 2 cm didepan wajahku... 

Dia berkata.. 

"Aku sudah menunggumu"



Bersambung...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar